Kalau identik artinya Adam dan Hawa dulu sudah tinggal di Surga dong. Kalau tidak identik, lalu Maria diangkat ke Surga atau ke Firdaus sih?
Kalau ke Firdaus kok diangkat sih? bukannya diizinkan masuk saja?
Kalau diangkat ke Surga sedangkan para kudus lain masih di Firdaus lalu bagaimana memahami makna perbedaan tersebut antara Surga dan Firdaus?
Atau para kudus lainnya memang sudah ada di Surga sebelum
Pengadilan Terakhir pasca kiamat? Atau waktu Pengadilan Terakhir mereka disuruh exit dulu dari Surga untuk diadili, kemudian diizinkan masuk lagi untuk kedua kalinya ke Surga? Atau bagaimana? Ada alternatif lain?
Waktu Adam dan Hawa diusir dari Firdaus bukankah tidak ada catatan
bahwa kemudian Firdaus itu dimusnahkan? Hanya dihadang malaikat saja supaya tidak ada yang bisa masuk? Apakah semua itu kemudian hanya kisah metaforik belaka sehingga tak perlu dipikirkan benar? Sekalipun sangat mempengaruhi iman kita?
Sungguh membingungkan!!! Siapa bisa memberi penerangan petromaks?
Hehee ... pak Juswan dan teman Apikers, persoalan utama adalah soal konsep kita yang selalu maunya terikat
oleh ruang dan waktu. Sehingga harus ada kepastian mengenai apa dan di mananya, mengenai kapan dan waktunya. kedua, adalah soal memahami dan menerima rumusan iman, yang mempunyai alur logika tersendiri.
Artinya, kalau pertanyaan soal apakah surga dan Firdaus sama ... itu adalah soal prinsip identitas, dan soal ruang (bentuk, tempat, dll). Tidak bisa dikatakan ya 100% dan tidak 100%, karena begitu kita
mengatakan ya, maka kalau kita lalu mengujinya dari konsep ruang dan waktu, maka kita akan bingung sendiri. Contoh seperti soal surga itu di mana? Kalau Adam dan Hawa sebelum jatuh dalam dosa, jelas dikatakan
mereka hidup dalam kebersamaan dengan Allah, dalam suasana syalom. Ide surga identik dengan itu. Akan sulit membayangkan, bagaimana setelah mereka jatuh dalam dosa lalu "diusir" keluar, lalu pintu surga dijaga
malaikat dengan pedang api. Untuk anak kecil mudah mengerti, dijaga supaya Adam dan Hawa tidak nekat kembali lagi. Tapi untuk orang dewasa: lha kalau Adam masih bisa kembali sendiri, kan itu artinya di
dunia ini. Di manakah gerangan itu? Setelah kita ubeg2 dengan teliti, gak ketemu juga tempat seperti yang dilukiskan Kejadian itu. Kalau tidak di bumi ini, lha ngapain dijaga segala, orang Adam ya gak bisa
kembali ke sana dan gak tahu jalannya dan gak punya kendaraan untuk sampai ke sana. Hehehee ......... Maka kalau mau zakelijk atau kaku begitu, yahh akhirnya paling realistik kita jatuh kepada ketidakpercayaan dan akhirnya ateisme.
Jadi ateisme itu adalah masuk akal kan? Kalau kita masih mau nekat percaya, maka artinya kita harus rela menanggalkan konsep zakelijk ilmiah duniawi ini, untuk menerima konsep di luar kemampuan akal budi
kita, entah itu menyangkut adanya, mau pun cara adanya. Konsep iman kristiani mengajarkan bahwa Allah dan juga hidup surgawi itu adalah hidup yang tidak terikat lagi oleh ruang dan waktu. Makanya disebut
sebagai "abadi" karena tidak ada lagi waktu.
Secara pribadi merenungkan dan memahami konsep hidup surgawi, saya seringkali harus melemparkan pertanyaan 'nakal' agar lebih mudah
'keluar' dari godaan berpikir ala akal-budi kita yang serba terbatas ini. Contoh lemparan nakal itu adalah sbb: Kita percaya akan "kebangkitan badan" dan "kehidupan kekal" (ini jelas
butir pokok dalam Syahadat kita, sehingga kalau masih kristiani ya
harus kita terima dan akui). Lalu saya melemparkan pertanyaan nakal: badan mana yang akan dibangkitkan kelak itu? Badan ini? Pasti bukanlah ... mengapa? Karena kalau badan ini, artinya badan real seperti yang
gambarnya tertempel pada KTP atau Passport kita, maka sayang ya mati tua, apalagi yang sudah jompooooo banget itu. Kasihan mereka yang saat hidup cacat. Kasihan yang dikremasi atau mati dimakan binatang kayak
para martir, atau hancur kena bom dll. Kasihan yang lahir prematur, karena belum mempunyai bentuk lengkap. dst.dst. Jadi beruntunglah yang mati muda, karena masih segar, dan kinclong. Hehhee ..... apalagi yang
bintang film atau ratu kecantikan atau abang dan none di mana gitu .... Karena itu saya yakin konsep tadi pasti tidak benar. Bagaimana mereka itu bisa bahagia kalau fisiknya saja mesakake (jw) gitu. Juga apakah
saya akan bahagia empurna dan syalom kalau di sebelah saya teronggok calon anak yang lahir prematur itu. Maka, saya yakin Allah tidak akan membuat keadaan menjadi tidak sempurna dan kebahagiaan menjadi hancur seperti itu, hanya karena soal
"badan" tadi itu. Kalau demikian pasti ada konsep 'badan' lain yang harus ada dan kita terima, yang non material atau metafisik. Apa itu? Paling aman gak usah dipikirin, karena kita juga tidak bisa tuntas
mengertinya. Yang jelas, saya yakin seyakin-yakinnya bahwa saya masih tetap akan dikenal sebagai Samiran, pak Juswan sebagai Juswan. Tetapi bukan karena rambut putih saya, atau tampang kepanditaan pak Juswan, tetapi
badan "X", badan baru yang mulia tadi. Konsep kita bisa melampaui konsep fisik itu. Saya mengatakan bisa, karena nyatanya memang bisa dan tidak mengganggu amat. Contoh lihatlah konsep kita tentang Yesus atau Maria. Kita bisa melihat berbagai lukisan atau patung Maria, lengkap dengan variasi face, wajah, warna kulit, sampai ras. Tetapi tetap saja kita mengenalinya sebagai presentasi Bunda Perawan Maria. Aneh kan? Aneh,
tapi bisa dan nyata. Dan kita tidak pernah merasa terganggu dan perlu mempersoalkannya. Semua kita terima. Kita lihat patung tertentu, dengan ciri eropa kita tahu itu maksudnya Bunda Maria. Juga kita lihat
yang hitam legam kayak Negro, ya kita menerima dan mengagumi itu sebagai Bunda Maria. Juga kalau seorang seniman Yogya melukis seorang ibu dengan kebaya menggendong atau tidak menggendong anak, tetapi
dengan penampilan tertentu, lalu kita menerima dan mengagumi itu sebagai Bunda Maria gaya Jawa. Aneh bukan? Tidak dan Ya. Maka pertanyaan Bunda Maria itu harusnya hitam atau putih, Jawa atau Eropa,
atau Timur Tengah ... pertanyaan ini tidak relevan lagi, karena tidak menggugurkan presentasi yang terungkap dalam lukisan atau patung-patung tadi.
Akhirnya, soal konsep: kok Maria "diangkat" sih, kok gak dibiarkan
masuk aja? Hemmm lagi lagi ini konsep manusiawi kita. Karena bagaimana pun juga isi iman harus disharingkan, diajarkan maka ya harus dirumuskan. Lha yang merumuskan manusia, maka ya menggunakan bahasa
manusia, walau pun terbatas. Nah, konon secara spontan dan bawah sadar karena sudah diajar dari kecil sampai kecil lagi, bahwa sorga itu di atas ... maka kalau Maria pindah dari dunia ke surga, ya berarti "naik". Nah, soalnya adalah
Maria itu sehebat apapun kan manusia, bukan Allah, maka ia hanya sampai ke sana kalau Allah 'mengulurkan tanganNya', maka munculnya konsep "diangkat". Bandingkan konsep untuk Yesus, bukan diangkat,
etapi "Yesus naik" ke surga. Mengapa? Karena Yesus adalah Allah, dan Dia datang dari surga dan kembali ke surga. Maka lihatlah konsep Yesus naik ke surga dilukiskan penginjiìl dengan amat sederhana, tidak ada
tanda-tanda kosmis yang hebat, seperti misalnya para malaikat yang menjemput dll. Mengapa? Mungkin penginjil mau mewartakan bahwa Yesus tidak perlu dijemput dan dihantar dan ditunjukkan jalannya untuk
sampai ke surga. Dialah yang empunya surga, maka tahu dan bisa sampai sendiri. Hehhehe ... bahkan Dia kan punya duplikat kunci surga banyak tuh, salah satunya yang diberikan ke Petrus. hehehe ...
Yahhh, akhirnya marilah kita berpikir secara rohani untuk mencecap harta rohani .....
This entry was posted on 11 08 2008. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. This article was favoured 33 time. You can leave a comment.
Last update on 11 08 2008 Views: 680
Views: 680